Ekspor Data dari Dataset ke Excel dengan Delphi Tanpa Komponen Tambahan

Ekspor Data dari Dataset ke Excel tanpa menggunakan tambahan komponen. Berhubung gagal menginstal TscExportexcel di Delphi 10.2, akhirnya cari cara agar data dari dataset dapat di ekspor ke excel. Setelah cari sana sini akhirnya didapatkan kode yang sedikit dimodif ini.

Contoh berikut menggunakan koneksi zeosdbo dengan zquery. Data yang diekspor ke excel adalah data hasil query menggunakan zquery.

Tambahkan ComObj dalam uses.

-------------------
procedure TForm1.excelClick(Sender: TObject);
var
XlApp, XlBook, XlSheet: Variant;
i, x : integer;

begin
XlApp := CreateOleObject('Excel.Application');
XlBook := XlApp.WorkBooks.Add;
XlSheet := XlBook.worksheets.add;

//memberikan judul pada baris pertama
for i:=0 to DBGrid1.FieldCount-1 do

begin
XlSheet.cells[1,i+1].value:=DBGrid1.Columns[i].Title.Caption;
end;
//XlSheet.cells[x,y] ==> x = baris dan y = kolom

ZQuery1.First;
x:=1; //inisialisasi untuk menampilkan no urut
while not ZQuery1.Eof do
begin
XlSheet.cells[x+1,1].value:=x;
for i:=1 to DBGrid1.FieldCount-1 do
begin
XlSheet.cells[x+1,i+1].value:=DBGrid1.Fields[i].Text;
end;
ZQuery1.Next;
inc(x);

end;

XlApp.visible:=true; //menampilkan dalam MS. Excel\</p>
end;

end.

-------------------
Ekspor Data dari Dataset ke Excel - Delphi 10.2 tanpa menggunakan tambahan komponen.

Kelemahan kode diatas adalah tidak cocok untuk data yang banyak, karena harus melakukan perulangan data dari datagrid.

Perlu diperhatikan Catatan Pada ICD 10 Chapter X Kode J

Chapter X
Diseases of the respiratory system
(J00-J99)

Note:
When a respiratory condition is described as occurring in more than one site and is not specifically indexed, it should be classified to the lower anatomic site (e.g., tracheobronchitis to bronchitis in J40).
Excl.:
certain conditions originating in the perinatal period (P00-P96)
certain infectious and parasitic diseases (A00-B99)
complications of pregnancy, childbirth and the puerperium (O00-O99)
congenital malformations, deformations and chromosomal abnormalities (Q00-Q99)
endocrine, nutritional and metabolic diseases (E00-E90)
injury, poisoning and certain other consequences of external causes (S00-T98)
neoplasms (C00-D48)
symptoms, signs and abnormal clinical and laboratory findings, not elsewhere classified (R00-R99)
Ketika diagnosis kondisi pernafasan terjadi pada lebih dari satu lokasi maka harus diklasifikasikan ke lokasi anatomi yang terbawah.
Misalnya, tracheobronchitis untuk bronkitis maka kode hanya J40.

Kumpulan ICD 10 Kasus Kehamilan yang Sering Ditemui

O14    Pre-eklampsia
O14.0 Pre-eklampsia sedang
O14.1 Pre-eklampsia berat
O14.9 Pre-eklampsia, tidak dijelaskan

O15 Eklampsia
Termasuk:    kejang yang terjadi setelah timbulnya kondisi O10-O14 dan O16
O15.0 Eklampsia pada kehamilan
O15.1 Eklampsia pada waktu melahirkan
O15.2 Eklampsia pada nifas
O15.9 Eklampsia: tidak dijelaskan waktunya, NOS
O16    Hipertensi maternal yang tidak dijelaskan
           Hipertensi sementara pada kehamilan

O21.0 HEG - Hyperemesis gravidarum ringan
 
O24 Diabetes mellitus pada kehamilan
Termasuk:    pada kelahiran dan nifas
O24.0 Diabetes mellitus yang sebelumnya telah ada, insulin-dependent
O24.1 Diabetes mellitus yang sebelumnya telah ada, non-insulin-dependent
O24.2 Diabetes mellitus akibat malnutrisi yang sebelumnya telah ada
O24.3 Diabetes mellitus yang tidak dijelaskan yang sebelumnya telah ada
O24.4 Diabetes mellitus yang muncul sewaktu hamil
           Gestational diabetes mellitus (diabetes mellitus akibat kehamilan) NOS
O24.9 Diabetes mellitus pada kehamilan, tidak dijelaskan

O32 Asuhan ibu untuk malpresentasi fetus yang diketahui atau dicurigai.
Presentasi normal adalah ‘occiput anterior’, yaitu ubun-ubun kecil di anterior ibu. 
Presentasi lain bisa ‘occiput posterior’, muka, dahi, dan bokong (‘breech’) atau sungsang. 
Presentasi bahu bisa terjadi ketika janin melintang (oblique or transverse) terhadap ibu.
Termasuk: kondisi berikut sebagai alasan untuk : observasi, perawatan, atau asuhan obstetri lain,
                 seksio cesar sebelum persalinan (kala I) dimulai.
Kecuali : kondisi berikut dengan obstruksi persalinan (O64.-)
O32.0 Asuhan ibu untuk letak (lie) anak yang tidak stabil
O32.1 Asuhan ibu untuk presentasi sungsang
O32.2 Asuhan ibu untuk letak transversa dan oblique (‘lintang’)
           Presentasi: transversa, oblique
O32.3 Asuhan ibu untuk presentasi muka, dahi, dan dagu
O32.4 Asuhan ibu untuk kepala yang masih tinggi di saat term (cukup bulan)
           Kegagalan kepala janin memasuki pelvic brim (pinggir atas panggul)
O32.5 Asuhan ibu untuk hamil ganda dengan malpresentasi 1 janin atau lebih
O32.6 Asuhan ibu untuk presentasi campuran (‘compound’)
O32.8 Asuhan ibu untuk malpresentasi lain janin
O32.9 Asuhan ibu untuk malpresentasi janin yang tidak dijelaskan

O33 Asuhan ibu untuk disproporsi yang diketahui atau dicurigai
Termasuk:  kondisi berikut sebagai alasan untuk:
                  observasi, perawatan, atau asuhan obstetri lain,
                  seksio cesar sebelum persalinan (kala I) dimulai.
Kecuali: kondisi berikut dengan dengan obstruksi persalinan (O65-O66)
O33.0 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat deformasi tulang pelvik ibu
           Deformitas pelvik menyebabkan disproporsi NOS
O33.1 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat penyempitan panggul secara umum
           Penyempitan pelvis NOS menyebabkan disproporsi
O33.2 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat penyempitan inlet panggul
           Penyempitan pintu atas (inlet) panggul menyebabkan disproporsi
O33.3 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat penyempitan outlet panggul
           Penyempitan rongga tengah panggul menyebabkan disproporsi
           Penyempitan pintu bawah panggul (outlet) menyebabkan disproporsi
O33.4 Asuhan ibu untuk disproporsi campuran yang berasal dari ibu dan janin
O33.5 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat janin yang besar dari biasanya
           Disproporsi akibat janin dengan janin yang terbentuk normal, disproporsi janin NOS
O33.6 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat janin hydrocephalus
O33.7 Asuhan ibu untuk disproporsi akibat deformitas janin lainnya
           Disproporsi akibat: kembar siam
           janin dengan: asites, hidrops, meningomyelocele, teratoma sakrum, tumor
O33.8 Asuhan ibu untuk disproporsi dengan penyebab lain
O33.9 Asuhan ibu untuk disproporsi, tidak dijelaskan
           Disproporsi: sefalopelvik NOS, fetopelvik NOS

O40 Polyhydramnios
Hydramnios

O41 Kelainan lain pada cairan dan selaput ketuban
Kecuali: ketuban pecah dini –Premature rupture of membranes (O42.-)
O41.0 Oligohydramnios
           Oligohydramnios tanpa disebutkan ketuban pecah

O42 Premature rupture of membranes – ketuban pecah dini
O42.0 Premature rupture of membranes, persalinan dimulai dalam 24 jam
O42.1 Premature rupture of membranes, persalinan dimulai setelah 24 jam
            Kecuali: dengan persalinan diperlambat oleh terapi (O42.2)
O42.2 Premature rupture of membranes, persalinan diperlambat oleh terapi
O42.9 Premature rupture of membranes, tidak dijelaskan

O44 Placenta praevia
O44.0 Placenta praevia yang dinyatakan tanpa perdarahan
            Implantasi rendah plasenta yang dinyatakan tanpa perdarahan
O44.1 Placenta praevia dengan perdarahan
            Implantasi rendah plasenta, NOS atau dengan perdarahan,
            Placenta praevia: marginal, partial atau total, NOS atau dengan perdarahan
            Kecuali:   persalinan yang dipersulit oleh perdarahan dari vasa praevia (O69.4)

O46 Perdarahan antepartum, not elsewhere classified
Kecuali:  perdarahan pada kehamilan dini (O20.-), perdarahan intrapartum NEC (O67.-)
                placenta praevia (O44.-), pemisahan prematur [abruptio] plasenta (O45.-)
O46.0 Perdarahan antepartum dengan cacad koagulasi
           Perdarahan antepartum (berlebihan) akibat:
           afibrinogenaemia, DIC, hyperfibrinolysis, hypofibrinogenaemia
O46.8 Perdarahan antepartum lainnya
O46.9 Perdarahan antepartum, tidak dijelaskan

O47 False labour – persalinan palsu
O47.0 False labour sebelum 37 minggu kehamilan
O47.1 False labour pada atau setelah 37 minggu kehamilan
O47.9 False labour, tidak dijelaskan

O48 Prolonged pregnancy
Post-dates, post-term

O60. Kelahiran preterm
Awal persalinan (spontan) sebelum lengkap 37 minggu kehamilan
O61.   Kegagalan induksi persalinan
O61.0 Kegagalan induksi persalinan medis
           Kegagalan induksi (persalinan) medis dengan: oxytocin, prostaglandins
O61.1 Kegagalan induksi persalinan dengan instrumen
           Kegagalan induksi (persalinan) medis secara: mekanis, bedah
O61.8 Kegagalan induksi persalinan lainnya.
O61.9 Kegagalan induksi persalinan, tidak dijelaskan

O63. Long labour – partus memanjang
O63.0 Kala I (persalinan) memanjang – sejak kontraksi dimulai
O63.1 Kala II (persalinan) memanjang – sejak pembukaan lengkap sampai lahir
O63.2 Kelahiran bayi kedua.pada twin, triplet, dst. tertunda
O63.9 Partus memanjang (long labour): tidak dijelaskan, NOS
           [Partus lama sering berarti “partus terlantar” yang kodenya bukan disini]

O64. Persalinan terhambat (obstructed labour) akibat malposisi dan malpresentasi fetus
O64.0 Persalinan terhambat akibat rotasi kepala janin tidak sempurna
           Deep transverse arrest
           Persalinan terhambat akibat (posisi) persisten:
           oksipito-iliaka, oksipito-posterior, oksipito-sakrum, oksipito-transversa
O64.1 Persalinan terhambat akibat presentasi sungsang
O64.2 Persalinan terhambat akibat presentasi muka
           Persalinan terhambat akibat presentasi dagu
O64.3 Persalinan terhambat akibat presentasi dahi
O64.4 Persalinan terhambat akibat presentasi bahu
           Prolapsed arm (lengan ‘menumbung’)
           Kecuali: bahu terhambat atau distosia bahu (O66.0)
O64.5 Persalinan terhambat akibat presentasi campuran
O64.8 Persalinan terhambat akibat malposisi dan malpresentasi lain
O64.9 Persalinan terhambat akibat malposisi dan malpresentasi yang tidak dijelaskan

O65. Persalinan terhambat akibat kelainan pelvik ibu
O65.0 Persalinan terhambat akibat deformasi pelvis
O65.1 Persalinan terhambat akibat panggul secara umum sempit
O65.2 Persalinan terhambat akibat penyempitan pintu atas panggul
O65.3 Persalinan terhambat akibat penyempitan pintu bawah dan rongga panggul
O65.4 Persalinan terhambat akibat disproporsi feto-pelvik, tidak dijelaskan
            Kecuali: distosia akibat kelainan janin (O66.2-O66.3)
O65.5 Persalinan terhambat akibat kelainan organ pelvik ibu
            Persalinan terhambat akibat kondisi yang tercantum pada O34.-
O65.8 Persalinan terhambat akibat kelainan lain pelvik ibu
O65.9 Persalinan terhambat akibat kelainan pelvik ibu yang tidak dijelaskan

O66. Persalinan terhambat lainnya
O66.0 Persalinan terhambat akibat distosia bahu
            Impacted shoulders
O66.1 Persalinan terhambat akibat locked twins – si kembar saling mengunci
O66.2 Persalinan terhambat akibat janin sangat besar
O66.3 Persalinan terhambat akibat kelainan lain pada janin
           Distosia akibat: kembar siam, janin hidrosefalus,
           asites, hydrops, meningomyelocele, sacral teratoma, atau tumor pada janin
O66.4 Kegagalan percobaan persalinan, tidak dijelaskan
           Kegagalan percobaan persalinan dengan kelahiran kemudian secara seksio sesar
O66.5 Kegagalan penggunaan ekstraksi vakum dan forseps, tidak dijelaskan
           Kegagalan ekstraksi vakum disusul dengan penggunaan forseps, atau 
           kegagalan ekstraksi forceps disusul dengan seksio sesar
O66.8 Persalinan terhambat lain yang dijelaskan
O66.9 Persalinan terhambat, tidak dijelaskan
           Dystocia: NOS, fetal NOS, maternal NOS

O68. Persalinan dipersulit oleh fetal stress [distress]
Termasuk: “fetal distress” pada persalinan dan kelahiran akibat pemberian obat
O68.0 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh kelainan fetal heart rate (FHR)
           Fetal: bradycardia, tachycardia, irama jantung tidak teratur
           Kecuali:   dengan meconium di dalam cairan amnion (O68.2)
O68.1 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh meconium di dalam cairan amnion
           Kecuali: dengan kelainan FHR (O68.2)
O68.2 Persalinan dan kelahiran dipersulit kelainan FHR dengan meconium di cairan amnion
O68.3 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh bukti biokimiawi fetal stress
           Asidemia atau gangguan keseimbangan asam basa pada janin
O68.8 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh bukti lain fetal stress
           Bukti fetal distress pada: EKG, USG
O68.9 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh fetal stress, tidak dijelaskan

O69. Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh komplikasi tali pusat
O69.0 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh prolaps umbilikus
O69.1 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus melilit leher, dengan penekanan
O69.2 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus tersangkut lainnya
            Umbilikus tersangkut kusut pada kembar dengan kantong amnion tunggal
            Simpul pada umbilikus
O69.3 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus pendek
O69.4 Persalinan dan kelahiran dipersulit vasa praevia [perdarahan dari vasa praevia]
O69.5 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh lesi pembuluh darah umbilikus
            Lecet atau haematoma umbilikus, thrombosis pembuluh darah umbilikus
O69.8 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh komplikasi umbilikus lainnya
O69.9 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh komplikasi umbilikus, tidak dijelaskan

O70. Laserasi perineum sewaktu melahirkan
Termasuk:  episiotomy yang diperlebar oleh laserasi
Kecuali: laserasi obstetrik tinggi tersendiri di vagina (O71.4)
O70.0 Luka perineum tingkat satu sewaktu melahirkan
           Luka, ruptur, atau robek ketika melahirkan (melibatkan)
           fourchette (lipatan kulit di balik vulva), vulva, vagina, labia, kulit
O70.1 Luka perineum tingkat dua sewaktu melahirkan
           Luka, ruptur, atau robek ketika melahirkan seperti O70.0, yang melibatkan:
           lantai pelvik, otot perineum, otot vagina
           Kecuali: melibatkan sphincter anus (O70.2)
O70.2 Luka perineum tingkat tiga sewaktu melahirkan
           Luka, ruptur, atau robekan ketika melahirkan seperti O70.1, yang melibatkan:
           septum rektovaginalis, sphincter anus, sphincter NOS,
           Kecuali: yang melibatkan mukosa anus atau rektum (O70.3)
O70.3 Luka perineum tingkat empat sewaktu melahirkan
           Luka, ruptur, atau robekan ketika melahirkan seperti O70.2, yang melibatkan:
           mukosa anus atau mukosa rektum,
O70.9 Luka perineum sewaktu melahirkan, tidak dijelaskan

O71. Trauma obstetrik lainnya
Termasuk: kerusakan oleh instrumen
O71.0 Ruptur uterus sebelum awal persalinan
O71.1 Ruptur uterus selama persalinan
           Ruptur uterus yang tidak dinyatakan terjadi sebelum awal persalinan
O71.2 Inversi uterus postpartum
O71.3 Luka obstetrik pada serviks
           Annular detachment of cervix – lepasnya serviks seperti cincin
O71.4 Luka obstetrik tinggi tersendiri di vagina
           Luka dinding vagina tanpa disebutkan luka perineum
           Kecuali: dengan luka perineum (O70.-)
O71.5 Cedera obstetrik lain pada organ pelvik
           Cedera obstetrik pada bladder atau urethra
O71.6 Kerusakan obstetrik terhadap sendi dan ligamen pelvik
           Avulsi (lepas) obstetrik rawan bagian dalam simfisis,
           Pemisahan traumatika obstetrik simfisis (pubis), kerusakan obstetrik koksigis
O71.7 Haematoma obstetrik pada pelvis
           Haematoma obstetrik: pada perineum, vagina, vulva
O71.8 Trauma obstetrik lain yang dijelaskan
O71.9 Trauma obstetrik, tidak dijelaskan

O72. Perdarahan setelah melahirkan (Postpartum haemorrhage)
Termasuk: perdarahan setelah kelahiran janin atau bayi
O72.0 Perdarahan kala III
           Perdarahan akibat plasenta tertinggal, terperangkap, atau melekat
           Plasenta tertinggal [retained placenta] NOS
O72.1 Perdarahan postpartum segera lainnya
           Perdarahan setelah kelahiran plasenta, perdarahan postpartum (atonik) NOS
O72.2 Perdarahan postpartum terlambat dan sekunder
           Perdarahan akibat tertahannya bagian plasenta atau membran
           Tertahannya produk konsepsi NOS, setelah kelahiran
O72.3 Cacat koagulasi postpartum
           Afibrinogenaemia atau fibrinolysis postpartum

O73. Tertahannya plasenta dan selaput ketuban, tanpa perdrahan
O73.0 Plasenta tertahan tanpa perdarahan
           Placenta accreta (melekat erat) tanpa perdarahan
O73.1 Bagian plasenta dan membran tertahan, tanpa perdarahan
            Produk konsepsi tertahan setelah kelahiran, tanpa perdarahan

O74. Komplikasi anestesia selama persalinan dan kelahiran
Termasuk : komplikasi maternal akibat pemberian anestetik umum atau lokal, analgesia
                  atau sedasi lain sewaktu persalinan dan melahirkan
O74.0 Pneumonitis aspirasi akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
           Inhalasi isi atau sekresi lambung NOS selama persalinan dan kelahiran
           Sindroma Mendelson akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
O74.1 Kompilasi paru-paru lainnya selama persalinan dan kelahiran
           Kolaps tekanan pada paru-paru akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
O74.2 Komplikasi anestesia terhadap jantung selama persalinan dan kelahiran
           Gagal jantung akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
O74.3 Komplikasi anestesia terhadap sistem syaraf pusat selama persalinan dan kelahiran
           Anoksia otak akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
O74.4 Reaksi toksik terhadap anestesia lokal selama persalinan dan kelahiran
O74.5 Sakit kepala akibat anestesia spinal dan epidural selama persalinan dan kelahiran
O74.6 Komplikasi lain anestesia spinal dan epidural selama persalinan dan kelahiran
O74.7 Intubasi gagal atau sulit selama persalinan dan kelahiran
O74.8 Komplikasi lain anestesia selama persalinan dan kelahiran
O74.9 Komplikasi anestesia selama persalinan dan kelahiran, tidak dijelaskan

O75. Komplikasi lain persalinan dan kelahiran, not elsewhere classified
Kecuali : sepsis nifas(O85), infeksi nifas (O86.-)
O75.0 Maternal distress selama persalinan dan kelahiran
O75.1 Shock selama atau sesudah persalinan dan kelahiran
           Obstetric shock
O75.2 Pyrexia selama persalinan dan kelahiran, not elsewhere classified
O75.3 Infeksi lain selama persalinan
           Septikemia selama persalinan
O75.4 Komplikasi lain dari operasi dan prosedur obstetrik
           Gagal jantung atau anoksia serebri setelah operasi sesar atau operasi dan
           prosedur obstetrik lainnya, Termasuk kelahiran NOS
           Kecuali:  komplikasi anestesia selama persalinan dan kelahiran (O74.-)
                           pada luka (bedah) obstetri dengan:
                           infeksi (O86.0), disrupsi (O90.0-O90.1), hematoma (O90.2)
O75.5 Kelahiran terlambat setelah membran dipecahkan secara artifisial
O75.6 Kelahiran terlambat setelah membran pecah spontan atau tidak dijelaskan
            Kecuali: ketuban pecah dini spontan (O42.-)
O75.7 Kelahiran per vaginam setelah seksio sesar sebelumnya
O75.8 Komplikasi lain persalinan yang dijelaskan
O75.9 Komplikasi persalinan, tidak dijelaskan

Update Peraturan Naik Kelas Perawatan pada PERMENKES Nomor 6 Tahun 2018 - April 2018

PERMENKES Nomor 6 Tahun 2018
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 April 2018.


Ketentuan Pasal 25 dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1601) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 143) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 25
(1) Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan pelayanan rawat jalan eksekutif, harus membayar selisih biaya/tambahan biaya paket pelayanan rawat jalan eksekutif paling banyak sebesar
Rp400.000,00 (empat ratus ribu rupiah).

(2) Dalam hal Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan pelayanan rawat jalan eksekutif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki asuransi kesehatan tambahan, maka selisih biaya/tambahan dibayarkan sesuai dengan kesepakatan antara asuransi kesehatan tambahan dan rumah sakit.

(3) Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan kelas pelayanan rawat inap yang lebih tinggi dari haknya, harus membayar selisih biaya/tambahan biaya setiap episode rawat inap dengan ketentuan:

a. untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap dari kelas 3 ke kelas 2, dari kelas 3 ke kelas 1, dan dari kelas 2 ke kelas 1, harus membayar selisih biaya antara tarif INA-CBG pada kelas rawat inap lebih tinggi yang dipilih dengan tarif INA-CBG pada kelas rawat inap yang sesuai dengan hak peserta;

b. untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap ke kelas VIP dengan fasilitas 1 (satu) tingkat di atas kelas 1, pembayaran tambahan biaya ditentukan sebagai berikut :

1. untuk naik kelas dari kelas 1 ke kelas VIP, pembayaran tambahan biaya paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) dari Tarif INA CBG kelas 1;

2. untuk naik kelas dari kelas 2 ke kelas VIP, adalah selisih tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 2 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke kelas VIP paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) dari Tarif INA CBG kelas 1; dan

3. untuk naik kelas dari kelas 3 ke kelas VIP adalah selisih tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 3 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke VIP paling banyak sebesar 75%
(tujuh puluh lima persen) dari Tarif INA CBG kelas 1.

(4) Dalam hal peserta jaminan kesehatan nasional menginginkan naik kelas pelayanan rawat inap di atas kelas VIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, harus membayar selisih biaya antara tarif rumah sakit pada kelas yang dipilih dengan tarif INA CBG pada kelas yang menjadi haknya.

....

Selengkapnya dapat dilihat di Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018

ICD 10 Diagnosis Kelompok Huruf A yang Sering Ditemui


DIAGNOSIS KODE ICD X Kelompok Huruf A yang Sering Ditemui

Abdominal pain R10.4
Ablasio retina / cornea H33.2
Abortus iminens O20.0
Abortus infeksius O08.0
Abortus inkomplit tanpa komplikasi O06.4
Abortus insiplens O02.1
Abortus lainnya O05
Abortus alasan medis O04
Abortus spontan O03
Abses tidak spesifik L02.9
Abses kulit dinding abdominal L02.2
Abses axilla (region), lymph node L04.2
Abses apendicular/appendix K 35.1
Abses bartolin bartholin's gland N75.1
Abses nose hidung J34.0
Abses cerebri G060
Abses colli leher L02.1
Abses cornea H16.3
Abses dada chest thorax J86.9
Abses gingiva K05.2
Abses ginjal kidney renal N15.1
Abses hati liver hepar K75.0
Abses inguinal L02.2
Abses kepala kulit L02.8
Abses lutut kiri/axilla/femur/femoral anggota gerak L02.4
Abses mamae payudara breast N61
Abses mandibula jaw K10.2
Abses mulut palate submandibular K12.2
Abses palpebra eyelid H00.0
Abses pantat buttock glutea L02.3
Abses perianal K61.0
Abses paru tanpa pneumonia J85.2
Abses paru dengan pneumonia J85.1
Abses peritonsilair J36
Abses periodental peridental gingiva K05.2
Abses perut intra abdominal intraperitoneal K65.0
Abses pinggang kiri L02.2
Abses pipi L02.0
Achelasia congenital Q39.5
Achelasia pylorus Q40.0
Acute abdomen R10.0
Acut laringotraceabroncitis laryngotracheobronchitis J20.9
Acut myelocitic / myeloid leukemia (AML) C92.0
Acut respiratory distress syndrom J80
Acute hepatic failure K72.0
Adamantinoma D16.5
Adeno Ca. gaster C16.9
Adeno Ca. colon C18.9
Adeno Ca. paru C34.9
Adenomyosis N80.0
Adnexitis N70.9
Agranulositosis D70
Akibat dari kemasukan benda asing melalui lubang tubuh T15, T16, T 17, T18, T19
Alergi T78.4
Alergi rhinitis akibat kerja J30.3
Aleukimia leukemia C95.7
ALL Acute lymphoblastic leukaemia C91.0
Amebiasis A06.9
Amenore amenorrhea N91.2
AMI ( infark miokard akut) I21.9
Anemia D64.9
Anemia aplastik lainnya D61
Anemia defisiensi zat besi D50
Anemia dalam kehamilan partus melahirkan O99.0
Anencepalus bayi Q00.0
Anencepalus kehamilan ibu O35.0
Aneurisme aorta abdominal tanpa rupture I71.4
Aneurisme aorta tidak spesifik I71.9
Angina pectoris I20.9
Angina pictoris unsiable I20.0
Angiofibroma nasofaring D10.6
Anoptalmos Q11.1
Anorexia R63.0
Anthraks anthrax antraks A 22
Antonia uteri O62.2
Anxietas anxiety F41.9
Aorta insuffisiensi I35.1
Apasia R47.0
APB O48.9
Apekia H27.0
Apendicitis K37
Apendicitis acute K35.8
Apendicitis dengan lokal peritonitis k35.3
Apendicitis dengan general peritonitis K35.2
Apendicitis dengan perforasi K35.2
Apnea apnoe R06.8
Apnea bayi P28.4
Aritmia arrhythmia I49.9
Artralgia arthralgia M25.5
Artritis arthritis M13.9
Artritis reumatoid M06.9
Ascariasis B77.9
Ascites R18
ASD ( Atrial septal defect ) Q21.1
Aseptor implant Z31.2
Asidosis metabdik E87.2
Asma bronchitis J45.9
Asphixia asfiksia R09.0
Asphixia asfiksia berat P21.0
asphixia asfiksia ringan P21.1
Aspirasi hidung kemasukan benda asing di hidung T17.1
Aspirasi benda asing di saluran nafas lainnya T17.9
Aspirasi pnemonia dewasa J69
Aspirasi pnemonia bayi cairan amniotic P24.1
Astenia asthenia R53
Atelectasis J98.1
Atherosclerosis aterosklerosis I70
Atresia anus Q42.3
Atresia duodenum Q41.0
Atresia Ileum Q41.2
Atresia rectum Q42.1
Atrial fibrilasi (AF) rapid ventricular rate or response RVR I48
AV block atrioventricular block I44.3

Pedoman Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Tahun 2017



Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1 Agustus Tahun 2017

Standar akreditasi untuk rumah sakit yang mulai diberlakukan pada Januari 2018 ini diberi nama Standar
Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 dan disingkat menjadi SNARS Edisi 1 tahun 2017.

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, merupakan standar akreditasi baru yang bersifat nasional dan diberlakukan secara nasional di Indonesia. Disebut dengan edisi 1, karena di Indonesia baru pertama kali ditetapkan standar nasional untuk akreditasi rumah sakit. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1 berisi 16 bab. Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 yang selanjutnya disebut SNARS Edisi 1 ini juga dijelaskan bagaimana proses penyusunan, penambahan bab penting pada SNARS Edisi 1 ini, referensi dari setiap bab dan juga glosarium istilah-istilah penting, termasuk juga kebijakan pelaksanaan akreditasi rumah sakit. Garis besar Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 tahun 2017 berisi sebagai berikut :


Sasaran Keselamatan Pasien
Sasaran 1 : Mengidentifikasi Pasien Dengan Bena
Sasaran 2 : Meningkatkan Komunikasi Yang Efekti
Sasaran 3 : Meningkatkan Keamanan Obat-Obat Yang Harus Diwaspadai (High Alert Medications)
Sasaran 4 : Memastikan Lokasi Pembedahan Yang Benar, Prosedur Yang Benar, Pembedahan Pada Pasien Yang Benar
Sasaran 5 : Mengurangi Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Sasaran 6 : Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Terjatuh

Standar Pelayanan Berfokus Pasien
Bab 1. Akses Ke Rumah Sakit Dan Kontinuitas Pelayanan (ARK)
Bab 2. Hak Pasien Dan Keluarga (HPK)
Bab 3. Asesmen Pasien (AP)
Bab 4. Pelayanan Dan Asuhan Pasien (PAP)
Bab 5. Pelayanan Anestesi Dan Bedah (PAB)
Bab 6. Pelayanan Kefarmasian Dan Penggunaan Obat (PKPO)
Bab 7. Manajemen Komunikasi Dan Edukasi (MKE)


Standar Manajemen Rumah Sakit
Bab 1. Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien (PMKP)
Bab 2. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Bab 3. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
Bab 4. Manajemen Fasilitas Dan Keselamatan (MFK)
Bab 5. Kompetensi Dan Kewenangan Staf (KKS)
Bab 6. Manajemen Informasi Dan Rekam Medis (MIRM)

Program Nasional
Sasaran I Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi Dan Peningkatan Kesehatan Ibu Dan Bayi
Sasaran II Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS
Sasaran III Penurunan Angka Kesakitan Tuberkulosis
Sasaran IV Pengendalian Resistensi Antimikroba
Sasaran V Pelayanan Geriatri

Integrasi Pendidikan Kesehatan Dalam Pelayanan Rumah Sakit (IPKP)

Download : Pedoman Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Tahun 2017
Semoga bermanfangat
Sumber : KARS.or.id, pdpersi.co.id

Sistem Manajemen Dokumen Akreditasi (SISMADAK )

SISMADAK atau Sistem Manajemen Manajemen Dokumen Dokumen Akreditasi adalah sebuah aplikasi alat bantu bagi Rumah Sakit (RS) untuk mengumpulkan mengumpulkan, menyimpan, dan mencari kembali dokumen bukti yang berhubungan berhubungan dengan akreditasi.

SISMADAK dikelola oleh masing‐masing rumah sakit sehingga menjamin kerahasiaan dokumen rumah sakit. SISMADAK trial dapat dcoba dengan mengunjungi http://rumahsakit.kars.or.id dengan user: user@kars.or.id password : 17082016

Fitur dalam SISMADAK :

  • Dapat melakukan penyimpanan dokumen berdasarkan Elemen Penilaian (EP), sehingga dokumen tidak berceceran.
  • Aplikasi SISMADAK dapat diakses di setiap peralatan peralatan Komputer, Tablet dan Smartphone lainnya. 
  • Tersedia pengaturan hak akses berdasarkan Pokja 
  • Histori dokumen akan tersimpan selamanya dalam sistem, sehingga dapat ditelusuri kembali. 
  • Tersedia Dashboard berupa indikator penilaian Self‐Assessment
  • Dapat melakukan sinfkronisasi penilaian Self‐Assessment yang sudah diisi dengan cara mendownload template yang tersedia untuk diupload ke Aplikasi SIKARS.
Keuntungan SISMADAK bagi rumah sakit :
Sebagai Sebagai media penyimpanan penyimpanan data dalam bentuk digital, sehingga: 
  • Menghemat tempat penyimpanan penyimpanan dokumen dokumen – Biaya kertas
  • Menghemat waktu karena kemudahan pencarian pencarian data kembali. 
  • Menghemat waktu Staff RS untuk melakukan melakukan pencarian dokumen yang diminta dan disajikan kepada Surveior pada saat akreditasi.
Selengkapnya dapat dibaca di :
Sumber : http://akreditasi.kars.or.id/tutorial_rs/Indikator-Mutu-dan-SISMADAK.pdf

Simulasi naik kelas BPJS Kesehatan Menurut Permenkes Nomor 4 Tahun 2017

Per tanggal 1 Februari 2017 tersapat pwrubahan ketentuan naik kelas BPJS Kesehatan. Simulasi naik kelas BPJS Kesehatan Menurut Permenkes Nomor 4 Tahun 2017, berikut ini gambaran tabel jika naik kelas BPJS Keaehatan :

Klaim inacbg merupakan pembiayaan dengan paket klaim berdasarkan diagnosis dan tindakan yang dilakukan kepada pasien.

Permenkes Nomor 4 Tahun 2017 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016

PERATURAN MENTERl KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR TARIF PELAYANAN KESEHATAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Pasal I
Ketentuan Pasal 25 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1601) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 1790) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :


Selengkapnya dapat dilihat di : Download Perubahan-Peraturan-Perhitungan-Naik-Kelas-BPJS-Kesehatan-PERMENKES-Nomor-4-Tahun-2017

Baca juga :
Simulasi naik kelas BPJS Kesehatan sesuai Permenkes Nomor 4 Tahun 2017

Perubahan Peraturan Naik Kelas BPJS Kesehatan - PERMENKES No 4 Tahun 2017

PERATURAN MENTERl KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR TARIF PELAYANAN KESEHATAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Pasal I

Ketentuan Pasal 25 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1601) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1790) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

...

Pasal 25
(1) Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan pelayanan rawat jalan eksekutif, harus membayar tambahan biaya paket pelayanan rawat jalan eksekutif paling banyak sebesar Rp 250.000 untuk setiap episode rawat jalan.

(2) Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan kelas pelayanan rawat inap yang lebih tinggi dari haknya, harus membayar selisih biaya /tambahan biaya setiap episode rawat inap dengan ketentuan:

a. untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap dari kelas 3 ke kelas 2, dari kelas 3 ke kelas 1, dan dari kelas 2 ke kelas 1, harus membayar selisih biaya antara tarif INA-CBG pada kelas rawat inap lebih tinggi yang dipilih dengan tarif INA-CBG pada kelas rawat inap yang sesuai hak peserta;

b. untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap ke kelas VIP dengan fasilitas 1 (satu) tingkat di atas kelas 1, pembayaran tambahan biaya ditentukan sebagai berikut :

1. untuk naik kelas dari kelas 1 ke kelas VIP, pembayaran tambahan biaya paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1;

2. untuk naik kelas dari kelas 2 ke kelas VIP, adalah selisih tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 2 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke kelas VIP paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1; dan

3. untuk naik kelas dari kelas 3 ke kelas VIP adalah selisih tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 3 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke VIP paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1.

Jika ingin memberikan pertanyaan ataupun berdiskusi, mohon agar melalui kolom komentar pada artikel yang terkait dengan topik permasalahan.

ERROR - HALAMAN TIDAK TERSEDIA

Copyright © Hakayuci