Sejarah INACBG di Indonesia


Sebelum INACBG diterapkan di Indonesia, INADRG terlebih dahulu digunakan mulai tahun 2009. INADRG kepanjangan dari Indonesian Diagnostic Related Group, yang merupakan sistem klasifikasi kombinasi dari beberapa jenis penyakit diagnosa dan prosedur tindakan pelayanan untuk penentuan tarif klaim Jamkesmas yang digunakan di rumah sakit. DRG (Diagnostic Related Group adalah suatu sistem pemberian jasa pelayanan kesehatan kepda penyedia pelayanan kesehatan (PPK) yang ditetapkan berdasarkan pengelompokan diagnosa penyakit.

Pada awalnya INADRG menggunakan aplikasi berbasis dekstop dengan database paradox. Grouper yang digunakan merupakan buatan 3M. Dulu waktu menggunakan aplikasi INADRG ini sering terjadi error database. Bahkan pernah saya kehilaangan data entri klaim selama 3 bulan dan alhasil harus mengentri ulang.

Setelah aplikasi INADRG lisensinya berakhir sekitar bulan September 2010, aplikasi klaim Jamkesmas di rumah sakit menggunakan INACBG yang merupakan kepanjangan dari Indonesian Case Base Groups. Case base groups merupakan cara pembayaran perawatan pasien berdasarkan diagnosis atau kasus yang relatif sama. Rumah sakit mendapatkan pembayaran pelayanan kesehatan berdasarkan rata-rata biaya yang digunakan untuk suatu kelompok diagnosis.

Sistem grouper INACBG dibuat dari sistem casemix UNU-IIGH (The United Nations University-International Institute for Global Health). Proyek UNU INACBG ini didanai oleh Australian Agency for International Development (AusAID). Manual untuk INACBG resmi diserahkan pada Kementerian Kesehatan Indonesia pada Januari 2013. Aplikasi INACBG berbasis web based untuk interface entri datanya, berbeda dengan INADRG yang berbasis aplikasi desktop.

Peran koding diagnosa dan tindakan sangat menentukan penentuan tarif INACBG. Koding merupakan proses penentuan kode diagnosis ataupun tindakan berdasarkan pedoman ICD (International Classification of Disease). ICD 10 digunakan untuk menentukan diagnosa dan ICD 9 CM volume 3 untuk prosedur tindakan medis. Besar kecilnya tarif INACBG yang muncul dalam ditentukan oleh diagnosis dan prosedur tindakan medis. Kesalahan penulisan ataupun pengkodean diagnosa maupun tindakan prosedur medis maka akan mempengaruhi tarif. Bisa jadi tarif menjadi lebih besar atau lebih kecil. Diagnosa dalam sistem CBG terdiri dari diagnosa utama dan diagnosa sekunder. Diagnosa sekunder ini terdiri dari diagnosa komplikasi dan diagnosa komorbiditas.

Diagnosis sekunder akan mempengaruhi besar kecilnya tarif INACBG, dapat menaikkan level severity (tingkat keparahan) yang diderita pasien. Namun tidak semua diagnosa sekunder akan menaikkan tarif INACBG hanya diagnosa tertentu saja.



Posting Komentar

Jika ingin memberikan pertanyaan ataupun berdiskusi, mohon agar melalui kolom komentar pada artikel yang terkait dengan topik permasalahan.

ERROR - HALAMAN TIDAK TERSEDIA

Copyright © Hakayuci